Jumat, 01 Januari 2021

Mengemas Kumpulan Artikel Menjadi Buku Siap Cetak

 
Istilah artikel koran dalam dunia tulis-menulis bagi para penulis pemula sering menjadi target khusus. Secara khusus semacam menjadi titik tolak diakuinya seorang penulis, yaitu jika salah satu tulisannya telah nongol di sebuah media massa, khususnya Koran. Mereka berlomba-lomba mengirimkan artikel atau mungkin opini kepada redaksi media dan berharap diterbitkan di halaman yang sangat bergengsi itu. Bagaimana tidak, dahulu sebelum muncul media online, setiap penulis pemula untuk menjadi penulis yang dikenal harus melalui fase mengirimkan puluhan tulisan untuk masuk seleksi redaksi media massa.

Seleksi tersebut tentu membuat kompetisi lumayan fear dan tidak semua penulis mampu, bahkan yang dikenal telah memiliki buku terbitan sekali pun. Sebuah pengalaman yang membanggakan bagi mereka yang pernah menjalani fase tersebut. Bahkan, menurut beberapa kawan yang memiliki pengalaman lolos seleksi, fase tersebut menjadi sangat adiktif. Kita menjadi selalu ingin mengirimkan tulisan kepada redaksi. Tak jarang, mereka seperti memiliki strategi khusus untuk meloloskan tulisannya dengan cara meramu sesuai rumusan yang mereka yakini sebagai model atau indikator diterima dan tidaknya sebuah artikel di sebuah Koran berplatform tertentu. Ada pula yang kemudian berani membuat buku yang berisi tips dan trik menulis artikel yang khusus diperuntukkan media massa Koran.

Pembuat buku semacam ini biasanya dilakukan oleh para penulis yang telah dianggap senior di bidang kepenulisan media. Secara otomatis, artikel-artikel yang pernah di muat di Koran pun ikut masuk di dalam halaman-halaman buku sebagai contoh konkret dan bukti keberhasilan penulisnya.

Pengumpulan artikel dan meramunya menjadi sebuah buku ini tidak hanya dilakukan untuk keperluan tips dan trik, tetapi juga melestarikan tulisan agar tidak hanya sekali baca dari Koran, kemudian dibuang atau hanya sekadar dikliping. Usaha tersebut tentu telah banyak dilakukan, meskipun tidak semua penulis yang memiliki artikel di media Koran telah melakukannya. Setidaknya, telah banyak penulis terkenal yang hampir kebanyakan bukunya berasal dari kliping koran berbentuk esai atau opini. Sebagai contoh saja, teman-teman tentu telah mengenal akrab buku-buku almarhum Prof. Kuntowijoyo yang kebanyakan adalah kumpulan tulisan beliau dari berbagai surat kabar. Tentu saja, buku-buku tersebut berisi artikel-artikel yang memiliki kesamaan tema, bahkan terkadang memiliki hubungan kelanjutan dari artikel sebelumnya, sesuai dengan konteks lahirnya tulisan tersebut. Selain dari berbagai surat kabar, terkadang tulisan-tulisan dalam buku-buku beliau juga berasal dari jurnal dan makalah yang pernah dipresentasikan di luar negeri, maupun dalam acara bertarap nasional di negeri sendiri: Indonesia.

Contoh lain yang lebih fenomenal adalah buku-buku Maulana Muhammad Ainun Najib, atau yang akrab dipanggil Emha Ainun Najib alias Cak Nun. Buku-buku beliau kebanyakan berasal dari tulisan-tulisan yang pernah dimuat di surat kabar, lalu dikliping dan diedit atau disunting ulang oleh Pak Totok Raharjo, sahabat setianya, untuk kemudian diterbitkan secara massal. Ada sekitar lima puluh judul lebih buku yang pernah diterbitkan Cak Nun, sungguh sangat fenomenal. Dan, kebanyakan berasal dari kumpulan artikel-artikel yang pernah dimuat di koran, majalah, atau di media masa yang lain.

Tahukah teman-teman? Buku-buku dari kedua tokoh yang kami sebut di depan, ternyata memiliki pasar sendiri. Dengan kalimat lain, mereka memiliki penggemar sendiri, yang cenderung sangat simpatik dengan tulisan-tulisan kedua tokoh tersebut. Salah satu buku almarhum Kuntowijoyo yang pernah menjadi favorit dan fenomenal adalah Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, terbitan Mizan sekitar 1991, sedangkan buku Cak Nun yang sempat fenomenal adalah Markesot dan Markesot Bertutur Lagi, juga terbitan Mizan, dan saat ini telah diterbitkan ulang juga.

Melihat kisah tersebut, tentu kita bisa mengambil pelajaran bahwa sesungguhnya menerbitkan buku tidak harus menulis buku secara utuh, tetapi bisa berupa kumpulan tulisan atau artikel. Sebab, terkadang, menulis buku secara utuh memerlukan nafas yang sangat panjang, meskipun banyak juga teman-teman yang justru lebih menyukai menulis buku secara utuh ketimbang artikel, sebab ruangnya lebih longgar. Apabila teman-teman memiliki banyak kumpulan artikel atau berbagai makalah yang dianggap perlu dipublikasikan, sebaiknya segera menempuh jalur menerbitkan buku sendiri, agar lebih mudah tercapai. Sebab, tidak semua penerbit mau menerbitkan buku berbentuk kumpulan artikel, kecuali penulisnya sudah memiliki nama besar di dunia media massa.

logoblog
Newest
You are reading the newest post